Beranda

“…Umbul JUMPRIT Sendang MATA AIR Berkah, Yang TAK Pernah KERING…”


"...Situs Kolam Mata Air Umbul Jumprit Temanggung Magelang Jawa Tengah..." Photo By : Red NRMnews.com

“…Situs Kolam Mata Air Umbul Jumprit Temanggung Magelang Jawa Tengah…” Photo By : Red NRMnews.com

 

“…Gapura Gerbang Masuk Situs Umbul Jumprit…” Photo By : Red NRMnews.com

“…NRMnews.com - MAGELANG Jawa Tengah, Merawat mata air sama artinya dengan merawat kehidupan. Karenanya, dimana ada mata air, kawasan di sekitarnya pun ikut menjadi sangat subur dan hidup.

Seperti Mata Air Umbul Jumprit, yang juga menjadi target sasaran liputan team redaksi NRMnews.com (Nasionalis Rakyat Merdeka News Online) kali ini.

Sumber mata air Umbul Jumprit terletak di lereng Gunung Sindoro, tepatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung – Magelang Jawa Tengah.

Umbul Jumprit menjadi lokasi yang tepat untuk menyegarkan diri dari rutinitas sehari-hari masyarakat kota. Umbul dan Sendang Jumprit sekilas sangat sederhana, namun kaya akan hal yang dicari-cari manusia yaitu kembali ke alam.

Di sekitar kawasan Umbul Jumprit terdapat Goa, Hutan, Kera, Aneka ragam Burung, Lembah, Perkebunan, Lanskap dataran tinggi lereng Gunung Sindoro, dan deru anak sungai yang mengalir dari Umbul Jumprit.

Sendang Umbul Jumprit merupakan sumber air utama bagi sungai Progo, yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Tengah. Pada tanggal 18 Januari 1987, Jumprit ditetapkan sebagai kawasan Wanawisata oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung dan diresmikan pada tahun 1988 oleh Gubernur Jawa Tengah (saat itu HM Ismail).

Tak hanya keindahan alam yang tersaji di tempat ini, tetapi juga cuplikan sejarah kerajaan terbesar di Nusantara, yaitu Kerajaan Majapahit. Jalan masuk utama ke Umbul Jumprit diapit oleh gapura setinggi 2,5 meter, kemudian akan dijumpai lagi pintu masuk kedua, yang terbuat dari susunan batu hitam berarsitektur candi Hindu.

Diatasnya berukir wajah Boma Nerakasura, dengan arca Dwarapala bersenjatakan gada dan terdapat arca Hanoman di kiri gapura, ketiganya berfungsi sebagai simbol penjaga/penghalau dari segala hal bersifat negatif, yang hendak memasuki kawasan situs Umbul Jumprit. Bangunan yang telah berumur ratusan tahun itu memiliki langgam arsitektur mirip dengan bangunan peninggalan Majapahit di Mojokerto (Jawa Timur).

Setelah berjalan sekitar 100 meter ke dalam lokasi, terdapat simpang tiga dengan arca Dwarapala diantaranya, simpang yang kiri mengarah ke Umbul Jumprit sedangkan ke kanan menuruni tangga menuju ke makam Panembahan Ciptaning (Ki dan Nyi Nujum Majapahit).

“…Pengambilan Air Berkah Tri Suci Waisak oleh para Bhiksu Budha…” Photo By : Red NRMnews.com

Nama Jumprit disebutkan dalam serat Centini, karya sastra para pujangga Jawa tahun 1815.”…Menurut cerita beliau adalah : Seorang ahli nujum dari kerajaan Majapahit. Ada pula yang mengatakan, bahwa beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya raja Majapahit…”.

Menurut Muhtasori, sang Juru Pelihara situs Umbul Jumprit, cerita tentang Ki Jumprit diawali pada masa peralihan Islam, pasca terjadinya perseteruan antara kerajaan Demak dengan Majapahit.

Dimana pada saat itu sosok Pangeran Singonegoro, yang merupakan salah seorang penasehat Prabu Kertabumi Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) tersebut, melakukan tapa brata di sendang ini, dengan ditemani dua pengikut setianya dan seekor Kera Putih kesayangannya, yang di beri nama Ki Dipo.

Pangeran Singonegoro yang kemudian bergelar Panembahan Ciptaning tersebut, setelah bermeditasi sekian lama di sekitar sendang itu pun pada akhirnya wafat. Namun sepeninggal tuannya tersebut, si Kera Putih itu pun ternyata tetap setia menunggui makam tuannya. Sedangkan kedua pengikut setianya yang lain, mulai melakukan perjalanan ke arah barat, sebelum pada akhirnya mereka pun kembali lagi ke sendang ini, lalu menetap sampai akhir hayatnya.

“…Yang pasti ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan Ki Jumprit termasuk makam ini. Mata air dan sendang Jumprit terletak di bawah gua, dimana mulut gua tersebut dirindangi sulur-sulur pepohonan di atasnya, air menetes dari sulur-sulur tersebut masuk ke dalam sendang.

Di dalam gua terdapat tempat bersembahyang/samadhi/meditasi, dan kembali akan terlihat arca Hanoman dengan ukuran lebih kecil, berlumut, dan tampak sangat kuno. Namun kemudian diketahui bahwa itu bukanlah arca Hanoman melainkan arca Ki Dipo (Kera Putih) itu sendiri.

Terkadang para Bhiksu ataupun orang biasa, yang bersamadhi di dalam gua sendang tersebut, mengaku melihat sekelebatan kera putih yang bernama Ki Dipo tersebut, meskipun tak ada yang pernah mengaku melihatnya dengan sangat nyata, karena memang penampakan Ki Dipo (Kera Putih) tersebut bukanlah suatu hal yang bersifat nyata, melainkan bersifat gaib (metafisik).

“…Makam Panembahan Ciptaning Kiai dan Nyi Jumprit… ” Photo By : Red NRMnews.com

Kawanan kera yang kerap berada di sekitar wanawisata Umbul Jumprit tersebut, juga diyakini sebagai kawanan Kera keturunan dari si Kera Putih (Ki Dipo), hasil perkawinannya dengan seekor kera betina, yang datang dari pegunungan Pleret.

Hingga kini jumlah kera-kera itu telah mencapai sekitar 20-30 ekor. Hingga saat ini Sendang Jumprit masih dipergunakan sebagai sarana untuk keperluan tirakat/laku perihatin/pengendalian diri bagi pengunjung, dengan cara berendam di dalamnya.

Air Suci di sendang tersebut, dipercaya kaya akan berkah dan keberuntungan. Di tempat itu pula juga terdapat arca Hyang Batara Semar/Ismaya dan arca Bima, yang sedang bertarung dengan Dewaruci di sekitar Sendang Jumprit. Sejak tahun 1987, menjelang 3 hari sebelum perayaan waisak pada tiap tahunnya, para Bhiksu Budha dari 9 aliran agama Budha secara bersama-sama berkunjung ke Umbul Jumprit, untuk berdoa dan mengambil Air Suci yang penuh berkah dari mata air ini, sebagai pembuka prosesi perayaan Tri Suci Waisak.

Sebanyak 10.000 Kendi Air Berkah ini dipendak/diambil dari situs Umbul Jumprit tersebut, lalu dipergunakan sebagai sarana Tirta Suci untuk memerciki Umat Budha, saat upacara puncak perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur.

Salah satu alasannya adalah, karena air di Sendang Jumprit tersebut setelah diteliti oleh para Bhiksu, ternyata adalah air sendang yang paling murni dengan kadar Spiritual terbaik, diantara sendang-sendang lain yang ada di seluruh Indonesia. Kemurnian airnya menyebabkan Sendang Jumprit dipilih para Bhiksu Budha sebagai tempat untuk bersamadhi/meditasi, tidak hanya dari Indonesia, melainkan juga dari Thailand maupun Srilanka.

Dan memang, menurut ahli dari Jerman yang pernah meneliti air sendang ini. Ternyata sumber mata air Jumprit ini, paling sedikit mengandung unsur bakteri patogen. Awal keramaian obyek wisata ini terjadi sejak awal 1980-an, ketika banyak peziarah yang melakukan wisata spiritual di makam Ki Jumprit di dekat Umbul Jumprit yang letaknya bersebelahan.

“…Muhtasori (kanan), Juru Pelihara Situs Mata Air Umbul Jumprit…” Photo By : Red NRMnews.com

Mereka bersamadhi/meditasi di sekitar makam, kemudian diakhiri mandi Kumkum/Berendam di mata air, yang tak pernah kering tersebut.

Puncak keramaian perziarahan biasanya terjadi pada dua hari keramat/suci menurut kepercayaan adat Jawa yaitu : Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, apalagi jika waktu sudah meninggalkan pukul 24.00 Wib (Pukul 12 malam).

Seusai kumkum, mereka membuang pakaian sebagai symbol membuang kekotoran dan segala unsur negatif atau pun sakit penyakit pada diri. Sehingga diharapkan keberkahan hidup yang baru pun kan datang menjelang di masa depan.

Pada malam Tahun Baru Jawa 1 Suro, di tempat ini pun juga sangat ramai. Dengan didukung oleh atraksi wisata di Sendang Sidukun, yaitu tradisi Suran Traji, dengan aneka ritual menebar Pusaka Pengantin Lurah Traji. Upacara adat tradisi asli masyarakat tanah Jawa ini, sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu, yaitu berupa Kirab Lurah.

Untuk mencapai Wanawisata Umbul Jumprit dapat di tempuh dengan 3 jalur, dari arah Magelang, Semarang dan Jogjakarta melalui kota Ngadirejo yang akan tiba di tugu Ngadirejo, setelah itu pengunjung dapat mengambil arah ke kiri kira-kira sejauh 8 km, dan akan menemukan plank petunjuk, yang mengarahkan ke Wanawisata Umbul Jumprit.

Jika perjalanan dilakukan dari arah Kendal, Weleri, dan Pekalongan dapat melewati jalur Candiroto, kemudian ke arah Jalur Lingkar Jumprit, belok ke kanan pada perempatan besar sejauh 8 km. Jalur ketiga merupakan jalur alternatif bagi yang berada di Wonosobo, melewati perkebunan teh Tambi kira-kira sejauh 10 km.

Jika ingin menginap dikawasan ini tersedia Wisma Perhutani, atau juga mendirikan tenda di bumi perkemahan. Wisatawan bisa menikmati udara segar dan indahnya pemandangan saat matahari terbit. Selain itu airnya pun juga dingin, jernih dan menyegarkan. Karena berada di lereng gunung Sindoro, hawa ditempat ini pun cukup dingin, sehingga bagi para wisatawan yang hendak bermalam dianjurkan membawa Jaket penahan hawa dingin, saat Bertandang…”

 
( Oleh : Red NRMnews.com / Dwi Pravita.G – Editor : A.Dody.R )

3 replies »

  1. Semoga tempat ini/sendang jumprit bisa dijaga kelestariannya jangan sampai ada coretan atau dirusak oleh orang2 yg tidak suka melihat kelestarian alam dan kesucian tempat ini!dan masyarakat disekitar tempat ini diberi hak dan kwajiban menjaga tempat ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s