Internasional

“…KONFERENSI ASIA – AFRIKA ( Bagian Kedua )…” Turun di BOGOR Mendunia di BANDUNG


“…Gedung Merdeka / Asia Afrika Bandung…” Foto By : Red NRMnews

 

“…Ruang Sidang Konferensi Asia Afrika di Bagian Dalam Gd Merdeka Bandung…” Foto By : Red NRMnews

“…NRMnews – BANDUNG, Menindaklanjuti hasil kesepakatan Konferensi Kolombo dan hasil kunjungan ke-14 negara Asia Afrika yang sebagian besar mendukung usulan ini.

Maka, Perdana Menteri Indonesia mengundang kembali para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo, Perdana Menteri U Nu dari Birma, Sir John Kotelawala dari Ceylon, Jawaharlal Nehru dari India, dan Muhammad Ali Pakistan diundang oleh Alisastroamijoyo ke Indonesia untuk mengadakan Konferensi Bogor.

Konferensi yang berlangsung pada 28–19 Desember 1954 ini, diadakan sebagai persiapan Konferensi Asia Afrika. Konferensi tersebut berhasil merumuskan kesepakatan tentang tujuan, waktu, tingkat delegasi yang diminta hadir, agenda, dan negara yang diundang dalam Konferensi Asia Afrika. Ditetapkan bahwa Konferensi Asia Afrika akan berlangsung pada akhir minggu bulan April tahun 1955.

Presiden Soekarno kala itu, menunjuk Kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya konferensi tersebut. Satu hal yang menarik adalah diundangnya Cina sebagai peserta KAA. Mengapa Cina yang berpaham Komunis dimasukkan ke dalam peserta konferensi..? Usulan ini tentu awalnya mendapat kecaman.

“…Foto Suasana Jalannya Acara Pembukaan Konferensi Asia Afrika….” Foto By : Red NRMnews

Menanggapi kecaman itu, Birma mengancam akan mengundurkan diri dari Konferensi jika Cina tidak diundang. Hal ini tentu menggelisahkan negara-negara sponsor lainnya.

Presiden Soekarno memberi pertimbangan bahwa kehadiran Cina bisa membawa kesuksesan bagi KAA. Pertama, Cina adalah aset yang besar bagi Asia. Sebab, sebagian besar daratan Asia dan penduduk Asia terkonsentrasi di daratan Cina.

Kedua, meskipun Cina adalah negara komunis, namun ia tak merapat ke Kubu Blok Timur yang juga berpaham komunis saat itu.

Keikutsertaan Cina ini pun membuktikan bahwa negara-negara di dunia ketiga ini berkomitmen atas Cita-citanya berpolitik Bebas Aktif tanpa mencampuri urusan dalam negeri orang lain. Pada 18-24 April 1955 Konferensi Asia Afrika pun dilaksanakan, saat itu sedang bulan Ramadhan, dan Konferensi ini pun selesai saat sehari menjelang Idul Fitri.

KAA diikut oleh 29 negara. Para delegasi disambut di Bandara Kemayoran, Jakarta. Gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun dipilih sebagai tempat penyelenggaraan KAA. Presiden Soekarno lalu mengubah nama Concordia jadi Gedung Merdeka dan Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwi Warna jelang pembukaan KAA.

“…Gong Perdamaian Koleksi Gd Merdeka Bandung…” Foto By : Red NRMnews

Para tamu menginap di dua hotel besar di sekitar jalan Asia Afrika, Hotel preanger dan Savoy Homan, plus 12 penginapan di sekitar jalan Cipaganti.

Hari pertama perlaksanaan KAA, dilakukan Historical Bandung Walk, yaitu perjalanan para delegasi dari Savoy Homan menuju Gedung Merdeka.

Setelah menentukan pimpinan dan sekretaris sidang, yakni Alisastroamijoyo dan Roeslan Abdulgani, acara dilanjutkan dengan pelaksanaan agenda sidang.

Sidang dibagi menjadi tiga komite, politik, ekonomi dan sosial budaya. Hasilnya adalah Dasasila Bandung, yang menjadi dasar KAA yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non-Blok.

DASASILA BANDUNG

1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta azas-azas yang termuat dalam piagam PBB.

2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa-bangsa.

3. Mengakui persamaan semua suku-suku bangsa dan persamaan semua bangsa-bangsa besar maupun kecil.

4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal-soal dalam negeri negara lain.

5. Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian atau secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.

6. a). Tidak mempergunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu dari negara-negara besar. b).Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.

7. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik sesuatu negara.

8. Menyelesaikan segala perselisihan-perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase atau penyelesaian hakim atau pun lain-lain cara damai lagi menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.

9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.

10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Kesuksesan KAA, membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia, ibarat ” New Kid on The Block “, yang sudah mampu menunjukkan wibawanya di mata dunia. Keyakinan dan perasaan yang berulang kali didengungkan oleh Bung Karno bagi bangsanya, bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang besar dan bermartabat, akhirnya menular.

Mereka yang tadinya ragu dengan konferensi ini menjadi ikut yakin dan optimis. Bangsa-bangsa Asia-Afrika pun menemukan posisinya dalam percaturan politik dunia saat itu. Bukan lagi menjadi sasaran caplokan koloni Blok Barat ataupun Blok Timur yang tak ubahnya pada masa kolonialisme.

Tapi mampu tegak di atas kaki sendiri, memiliki pendirian dan sikap sendiri yang dihormati dunia. Suatu sikap yang pantas kita teladani hari ini ketika bangsa ini begitu takut akan gemerlap pergaulan dunia. MERDEKA…!

( Oleh : Red NRMnews / Eka Shantika )

2 replies »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s