Artikel

“…POTRET Para EMPU dalam JEJAK Sejarah Candi SONGGORITI…”


"...Bilik Selatan Candi yang Belum Dipugar, Pengunjung Dapat Melihat Adanya Mata Air di Tengah Candi Melalui Bilik Ini..." Photo By : Red NRMnews.com

“…Bilik Selatan Candi yang Belum Dipugar, Pengunjung Dapat Melihat Adanya Mata Air di Tengah Candi Melalui Bilik Ini…” Photo By : Red NRMnews.com

 

"...Sumur air dingin di Kawasan Cagar Budaya Candi Songgoriti ...." Photo By : Red NRMnews.com

“…Sumur air dingin di Kawasan Cagar Budaya Candi Songgoriti ….” Photo By : Red NRMnews.com

“…NRMnews.com – MALANG Jawa Timur, Keris Empu Gandring adalah salah satu pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Empu Gandring dikenal sebagai Pande besi yang sakti yang meninggal di tangan Ken Arok menggunakan keris buatannya sendiri.

Ken Arok sendiri merupakan raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Singhasari. Dalam pararaton diceritakan bahwa Empu Gandring sebelum ajalnya melontarkan supata / kutukan bahwa kerisnya akan meminta darah anak cucu Ken Arok hingga 7 turunan.

Dan demikianlah, pada akhirnya Keris tersebut terlibat dalam kematian demi kematian di lingkungan Kerajaan Singhasari hingga tak terdengar lagi kemana rimbanya.

Empu Gandring berasal dari desa Lulumbang yang diperkirakan saat ini berada di daerah Plumbangan-Doko, dekat Wlingi Blitar. Bahkan tempat pembuatan keris tersebut sampai sekarang masih bisa ditemukan di dukuh Pandean, Wlingi, Blitar.

Namun ada satu tempat di Batu, Malang Raya, Jawa Timur, yang disebut-sebut masyarakat sekitarnya sebagai Candi Empu Gandring. Ada juga yang menyebutnya sebagai Candi Empu Supo. Sedangkan nama resminya adalah Candi Songgoriti, yang berada di Desa Songgokerto. Empu Gandring dan Empu Supo sama-sama dikenal sebagai pembuat pusaka / pande logam yang sakti dan handal.

Empu Supo hidup pada masa Kerajaan Empu Sindok, sedangkan Mpu Gandring hidup pada masa Kerajaan Kediri. Memperkuat candi tersebut dan daerah sekitarnya adalah pusat pande logam, tak jauh dari lokasi, ditemukan sebuah prasasti yaitu Prasasti Sangguran atau Batu Minto bertarikh 850 C atau 928 M, yang dikeluarkan atas perintah raja Wawa.

"..Demonstrasi pembuatan warangka, hulu, dan penghalusan bilah keris oleh para mpu.."

“..Ilustrasi Pembuatan Keris Oleh Para Empu..” Photo By : Red. NRMnews.com

Prasasti yang ditemukan di dukuh Ngandat, kota Batu ini, memberitakan bahwa raja dan Mahamantri I Hino Pu Sindok bernazar untuk menjadikan desa Sangguran sebagai wilayah watak Kanuruhan suatu perdikan dari Bhatara di suatu bangunan suci yang ada di daerah sima kanjurugusalyan di Mananjung.

Ada 13 desa disebutkan mendapat sima dalam prasasti termasuk Desa Songgokerto. Disebutkan pula adanya sima khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (logam).

Hal ini diperkuat pendapat Ahli Epikgrafi, Boechari. Ia menafsirkan dan berpendapat dikerajaan itu terdapat sekelompok pandai besi yang berjasa kepada raja.

Salah satu pemuka pande adalah Empu Gandring yang bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa atau Ken Arok sebagai penebus rasa bersalahnya. Diketahui, candi ini banyak menyimpan peninggalan berharga bagi sejarah bangsa. Di dalam tanah dekat dasar candi, ditemukan empat peti batu yang berisikan lingga dari emas, yoni dari perunggu, serta mata uang dan kepingan emas bertuliskan nama dewa-dewa

“Songgoriti” sendiri dalam bahasa Jawa Kuno berarti “timbunan logam”. Masyarakat setempat juga sering menemukan benda bersejarah berupa uang kepeng atau logam di kawasan tersebut.Candi Songgoriti menyimpan keunikan lain, yakni menjadi pusat pertemuan sumber air panas dan sumber air dingin.

"...Juru Pelihara Candi Songgoriti, Haryoto (kiri) bersama adiknya..." Photo By : Red NRMnews.com

“…Juru Pelihara Candi Songgoriti, Haryoto (kiri) bersama adiknya…” Photo By : Red NRMnews.com

Dua sumber tersebut, berdampingan secara harmonis, berjarak hanya satu meter di areal candi. Hal yang sulit dimengerti akal sehat bagaimana keduanya tidak bercampur.

Menurut juru pelihara situs, pertemuan dua sumber itu menjadi kolam khusus untuk pembuatan senjata pusaka yang sakti mandraguna sejak zaman Raja Mpu Sindok.

Dulu daerah ini kawah yang tidak bisa ditempati manusia, akhirnya disumpal dengan candi oleh Mpu Supo sehingga airnya mengecil dan mengeluarkan air dingin dan panas.

Air ini sama dengan mitos Gunung Mandara, gunung suci yang mengeluarkan air susu…”, terang Haryoto, juru pelihara situs. Air panas yang menggelegak digunakan sebagai tempat menyepuh keris oleh para Pande dahulu, sedangkan keris yang telah disepuh kemudian direndam dalam sumber air Pasang giri yang ada di tengah candi.

“…Tiga sumber air ini mau diangkat sebagai keajaiban dunia oleh raja – sultan nusantara yang telah berkunjung ke tempat ini…”, tambahnya. Adapula mitos yang menyebutkan sumber air ini merupakan patokan untuk stabil tidaknya pemerintahan di Malang Raya dan bahkan Indonesia.

Ketika negara goncang oleh kerusuhan politik tahun 1998, air di sumber Pasang Giri ini langsung meluber dan beriak-riak. Namun, bila suhu politik di tanah air kondusif, sumber air tersebut tenang dan volumenya tetap terisi setengah dari tinggi kolam kecil itu. 

 
( Oleh : Red. NRMnews.com / Dwi Pravita – Editor : A.Dody.R )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s