Beranda

“…SMRC: Mobilisasi Politik Akibatkan Sentimen Anti-Tionghoa…”


"...Saiful Mujani, Pendiri SMRC..."

“…Saiful Mujani, Pendiri SMRC…”

“…NRMnews.com – JAKARTA,  Menurut survei Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) menyebutkan, sentimen anti-Tiongkok atau Tionghoa dalam masyarakat, hanya sebesar 0,8% dan cenderung stabil dalam kurun waktu 15 tahun.

“…Secara statistik 15 tahun ini bisa dikatakan tidak ada persoalan yang signifikan, tapi kesan anti-China itu bervariasi. Tapi anti-China berubah-ubah berarti yang buat bukan tingkat massa tapi kelompok tertentu…”, ucap pendiri SMRC, Saiful Mujani.

Dalam diskusi bertema Ada Apa di Balik Sentimen Anti-China ? di LBH Indonesia, Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat, Kamis (29/12/2016). Saiful menilai sentimen anti-Tiongkok sebuah gerakan sosial yang menjadi mobilisasi politik tertentu. “Jadi saya melihat bahwa rasialisme muncul bukan karena faktor rasialisme, tapi ada mobilisasi politik, ada yang menggunakan ras untuk kepentingan politik,” dia menambahkan.

Saiful menjelaskan, gerakan sosial bukanlah tindakan spontan karena kemarahan massa, namun lebih terkait faktor-faktor tertentu. Di antaranya political opportunity structure, mobilizing structure, dan framing process. Faktor pertama, gerakan sosial anti-Tiongkok muncul ketika kelompok tertentu melihat bahwa pejabat atau pemerintah yang berkuasa tidak sesuai harapan. Sehingga membutuhkan dukungan massa untuk menciptakan opini buruk.

“Peluang itu muncul ketika elite politik dilihat tidak solid dan bersaing, sehingga membutuhkan dukungan massa,” ucapnya . Faktor yang kedua, mobilizing structure. Saiful menjelaskan, yang berarti gerakan anti-Tiongkok muncul hanya apabila dimobilisasi oleh suatu kelompok yang memiliki kekuatan.

“Gerakan sosial hanya mungkin terjadi apabila ada organisasi yang memobilisasi sumber daya manusia, materi, jaringan, skill, dan simbol. Ada organisasi dan ada kepemimpinan,” ujar Saiful. Ketiga, faktor framing yang menunjukkan kelompok ini berupaya menyebarkan doktrin tertentu dan menciptakan opini pada etnis Tionghoa di Indonesia.

“Ya seperti ada ide, semangat, sentimen, jargon, ajaran, doktrin yang memberi makna, yang menarik orang hingga terbentuk solidaritas kolektif, dan bahkan membentuk semacam identitas atau kelompok sosial baru,” saiful memaparkan.

Menurut survei pada November 2016, sebagian besar warga mengaku tidak suka kelompok radikal Islam Iraq dan Syria (ISIS), disusul dengan kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), Komunis, Yahudi, Kristen, FPI, Wahabi, dan yang terakhir adalah etnis Tionghoa.

Survei SMRC soal tingkat toleransi warga Indonesia terhadap etnis Tionghoa dilakukan dalam kurun 2001-2016, dengan menggunakan teknik probability sampling atau opini publik sementara, dan ukuran sampel tiap survei selalu di atas 1000. Survei ini memiliki margin of error rata-rata +/- 3,5% pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(Oleh : Red NRMnews.com / Fajar S. -Editor : A. Dody R.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s